Dec 26, 2009

Baralek di Sangir, Solok


Cerita di kampung Uda yha, acaranya bahkan dimulai dari hari Kamis. Kamis ada acara pemotongan kambing, Jumat nya sapi, Sabtu pestanya orang Kampung, Minggu baru acara baralek biasa. Hari sabtu justru lebih ramai daripada hari minggu. Di Sangir, Solok kampung uda tradisi memberi kado beras, kelapa dan ayam (hidup lho!!) masih lumayan kental. Kebetulan acaranya ada dua, acara Uni Kakak Uda juga married, jadi 2 pasang pengantennya. Foto di Solok belum selesai, jadi foto yang di camera pribadi aja yha..

Ada yang lucu di acara ini, saya pikir make upnya make up kampung. Pasti dijaman menor dan warnanya ngga update. Saya sempat agak pasrah (lebay.com) secara di kampung yang hampir 5 jam dari Kota Padang hahahah!!!. Ternyata make upnya bagus banget. Ngga kalah dengan make up di Padang. Uda bilang "makanya jangan underestimate orang Kampung!! hihih..) Pelajaran ke 20110...Make Up nya Ni Cha Salon, buat yang mo baralek di Solok dan sekitarnya nanti email saya aja japri yha. Dia ternyata sering make up anak daro di Padang juga.

Malam minggunya acara para perkenalan dengan para datuk dan mamak-mamak di kampung Uda. Nungguinnya ini lho minta ampun lamanya, karena mereka ngomongin adat dan lainnya.Baru sekitar jam 11 mlm saya mengikuti uda bersalaman dengan para tetua. Uda pun diberi gelar, Di kampung atau keluarga besar saya memanggil Uda menjadi "Malin Sutan" bukan Malin Kundang yha. Setelah saya cek di internet berikut makna nya malin

Kata malin berasal dari bahasa Arab mualim dan diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi malim dengan makna ‘1.orang alim; ulama; guru agama Islam; 2.pemimpin; penunjuk jalan; 3. pawang. Dalam bahasa Minangkabau kata itu dikenal dengan malin—fonem m dan n pada kata-kata tertentu dalam dialek tertentu pada posisi akhir sering berkorespondensi—malin dalam bahasa Minangkabau berarti ‘1 orang alim; orang berilmu, ‘2 bagian dari gelar adat; termasuk dalam jenis yang IV Nan IV Jinih; hakikat’., (http://sawirman-e135.blogspot.com)

Semoga Uda menjadi malin buat semua. Amin ya Allah.

Oh yha ditengah acara itu juga berlangsung Kesenian Randai di halaman depan, seumur-umur belum pernah lihat acara Randai, selama ini hanya mendengarnya saja. Btw fotonya maaf ambil dari internet yha karena yang dari camera kita gelap sekali.

Randai
adalah kesenian (teater) khas masyarakat Minangkabau yang dimainkan oleh beberapa orang (berkelompok atau beregu). Cerita dalam randai, selalu mengangkat cerita rakyat Minangkabau, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya.


Kesenian randai yang kaya dengan nilai etika dan estetika adat Minangkabau ini, merupakan hasil penggabungan dari beberapa macam seni, seperti
: drama (teater), seni musik, tari dan pencak silat. Dalam sebuah randai, ada beberapa pemain pendukung, di antaranya: pemain galombang, yang melakukan gerak-gerak gelombang yang bersumber dari bunga-bunga silat; pembawa alur cerita, pemain ini akan berbicara secara lantang menyampaikan narasi demi narasi yang menjadi ruh cerita randai; pemain musik/dendang, merekalah yang akan memainkan talempong, gendang, serunai, saluang, puput batang padi, bansi, rabab dan lainnya; pemain pasambahan, bertugas berbicara atau berdialog dalam petatah-petitih Minangkabau. Pemain ini akan memberi bobot dan pesan moral lewat kiasan yang ia sampaikan; dan pemain silat yang tampil ketika ada alur cerita menghendaki perkelahian.
(http://wisatadanbudaya.blogspot.com/2009/08/randai.html)

Oh ya di kampung, semua makanan dimasak sendiri, kalau pakai catering wadooowhh bisa diamuk orang kampung. Nah khasnya ibu-ibu di Minang kalau acara pake kerudung segitiga dan pake sarung dan siap untuk bertempur di dapur khusus.
Kata Uda nanti kalau ada yang Baralek juga saya harus bantu-bantu di kampung juga, pake sarung juga hihihi wadoowhh....
Ini foto kita nyamperin etek-etek dan mak tua (Tante-tante) di dapur. Etek-etek ini ngga mau difoto kedepan karena mereka seksi sibuk. Jadinya kita samperin ke belakang deh.

Hari senin nya kirain acaranya uda kelar, ternyata ada lagi namanya mamancuang alek, ini semacam doa penutupan pesta. Hari selasa sebelum kita ke Padang kata Mama Sangir
(mama uda, kalo mama saya jadi Mama Padang hehe,,) bilang adatnya kalau ada yang menikah dari keluarga akan dibekali sepasang ayam, kelapa untuk ditanam dan beras untuk dimakan. Lha kami mau bawa ayam nya terus ntar diternakain di kontrakan di Jakarta, wadoohhh

Oh yha ini pemandangan di kampung, bagus banget kan...Senin paginya kami jalan di pematang sawah dan kebun teh ..so romantis dehhh halah!!! Kalau tua pensiun disini asik kali yha,...






















No comments:

Post a Comment

feel free to comment :)