Feb 5, 2008

Very Contraversial Article - Doa Seorang Suami

Ini sebuah story yang sangaattttttttt menggelitik, jadi ada artikel yang intinya moral :

Moral of the story : Bersyukur dengan apa yang anda miliki, karena apa yang terlihat oleh mata, tak selalu sama dengan kenyataan yang ada. Tetapi yang menariknya artikel ini membuat pro dan kontra….nice sebagai inputan buat diri kita………Nah comment yang muncul variatiffff banget.

Gw (debi) : Di sini ada gw sebagai cewek yang masih single

Rz : Seorang Bapak muda yang istirinya ng tertarik untuk bekerja

Riccy : Seorang Bapak muda yang istrinya yang bekerja

Rendra : Temen cowok gw yang status nya juga masih single.

Arnee : Ibu muda yang bekerja

Mawar Kuning : Ibu muda yang bekerja juga

Eka : Just married and working


Take A look………


- a simple story for you – Doa Seorang Suami

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Seorang lelaki berdoa: “Oh Tuhan, saya tidak terima. Saya bekerja begitu keras di kantor, sementara istri saya enak-enakan di rumah. Saya ingin memberinya pelajaran, tolonglah ubahlah saya menjadi istri dan ia menjadi suami.”

Tuhan merasa simpati dan mengabulkan doanya. Keesokan paginya, lelaki yang telah berubah wujud menjadi istri tersebut terbangun dan cepat-cepat ke dapur menyiapkan sarapan. Kemudian membangunkan kedua anaknya untuk bersiap-siap ke sekolah.

Kemudian ia mengumpulkan dan memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci. Setelah suami dan anak pertamanya berangkat, ia mengantar anaknya yang kecil ke sekolah taman kanak-kanak. Pulang dari sekolah TK, ia mampir ke pasar untuk belanja. Sesampainya di rumah, setelah menolong anaknya ganti baju, ia menjemur pakaian dan kemudian memasak untuk makan siang.

Selesai memasak, ia mencuci piring-piring bekas makan pagi dan peralatan yang tela h dipakai memasak. Begitu anaknya yang pertama pulang, ia makan siang bersama kedua anaknya. Tiba-tiba ia teringat ini hari terakhir membayar listrik dan telepon. Disuruhnya kedua anaknya untuk tidur siang dan cepat-cepat ia pergi ke bank terdekat untuk membayar tagihan tersebut.

Pulang dari bank ia menyetrika baju sambil nonton televisi. Sore harinya ia menyiram tanaman di halaman, kemudian memandikan anak-anak. Setelah itu membantu mereka belajar dan mengerjakan PR. Jam sembilan malam ia sangat kelelahan dan tidur terlelap. Tentu masih banyak pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya yang belum dikerjakan.

Dua hari menjalani peran sebagai istri ia tak tahan lagi. Sekali lagi ia berdoa, “Ya Tuhan, ampuni aku. Ternyata aku salah. Aku tak kuat lagi menjalani peran sebagai istri. Tolong kembalikan aku menjadi suami lagi.” Tuhan menjawab: “Bisa saja. Tapi kamu harus menunggu sembilan bulan, karena saat ini kamu sedang hamil.”

- - - - - - - - - - - - - - -


Moral of the story : Bersyukur dengan apa yang anda miliki, karena apa yang terlihat oleh mata, tak selalu sama dengan kenyataan yang ada.

Riccy’s comment:

Istrinya siapa tuh???

Hari gini gitu loh, nyuci sudah pakai mesin cuci, yang masak pbb, yang bersih2 rumah2 pbb,cuci2 piring juga dah ma pbb, some time mandiin anak juga.

Pagi2 anak kesekolah di anter ma bapaknya, pulang nya ma anter jemput, bayar2 tagihan dah lewat ATM. Belanja? tinggal tlp mart.

Shopping is one good ritual to where that every modern family has to spend their weekend……

Come on mate grow up, you live in new age…..Millennium age.

Husband & Wife now equal, they are money machine for their own family.Husband & Wife is a mutual partnership, life time partnership

Have a nice week end!

Rz said:

ha..ha..ha..Food

no comment… I’m a conservative man..We are different in a way.. that’s way kita tidak berjodoh…

Rendra said :

ndak tau yah…

kalo aku sih terserah istrinya aja… mau nongkrongin rumah boleh… mau kerja juga gapapa… yang jelas kalo dia kerja pun aku ndak mau denger alesan kalo ada sesuatu yang ndak beres sama masakan, kebersihan, cucian, ama anak… mau pake pbb? hayuk tapi budget belanja fashion (jatah dia doang tapi, jatahku masih) dan makan di luar hilang.

mas riky… inti cerita mas rozy itu yah kesetaraan…

sebenernya ndak ada yang lebih enak atau lebih sibuk… suami ya suami… istri ya istri… siapa yang ngeremehin pekerjaan yang laennya memang pantes dapet pelajaran seperti itu…cuma, pernah dulu banget pas resesi, papa pernah ngomel: “mamamu itu lho… yang capek kerja sampe larut malam aku, yang kena marah atasan aku, eh pas gaji dipotong banyak, yang susah dan marah-marah kok malah dia…aku dimarahi lagi di rumah.”

bukan cuma papa papa yang harus ngerti istrinya… mama mama juga, please jangan marah marah, atau kasih tampang cemberut pas suami pulang kantor… kalo pada telat ya maklumlah, ada meeting… kalo ndak betah ditinggal, ya jemputin ke kantor bawa makan malam… kalo gajinya telat, ya maklumlah (secara, trakindo!!!)… kalo dah tipis banget ya bongkar tabungan dikit… investasinya ndak usah diutakutik… kalo suami capek buanget, mbok sabar, jangan minta jatah langsung… siapin kopi/teh/susu, air anget buat mandi, pijetin…. baru kalo agak enakan… yuuuk!!!!

equality rules!!!

Thanks a lot.

RJ

Mawar Kuning

Yellow_rose_1 Tidak ada yang salah dengan wanita yang full time di rumah full time mengurus rumah tangga. dan tidak ada yang salah juga dengan wanita yang memutuskan (dikarenakan one thing or another) untuk bekerja full time di luar rumah tapi juga tidak begitu saja meninggalkan tugas2 dan kewajiban2nya sebagai ibu dan istri. satu hal yang i really believe. Tugas dan kewajiban utama seorang wanita adalah menjadi istri untuk suaminya dan ibu untuk anak2nya. setelah dia tahu bahwa semuanya is taken care of (be it with bantuan pembantu, orang tua or saudara), baru dia boleh melakukan hal2 lainnya di luar rumah. (makanya kalau aku ijin untuk bawa anak ke dokter or urusan sekolah harap dimaklumkan yaaa…. hehehehe….)

sekedar info aja mengenai skedulku tiap hari:

5:00 - 5:15 bangun & main sama adek

5:15 - 5:30 kasih susu adek

5:30 - 5.45 mandiin adek (dari sini adek diurus suster)

5:45 - 6:00 aku mandi

6:00 bangunin abang dan suami

6:00 - 6:30 siapin makan dan minum abang n suami

6:30 - 7:00 aku dandan, siap2 ke kantor

7:00 - 7:15 mandiin abang dan nyiapin abang

7:15 - 7:30 free time dikit sama adek

7:30 berangkat ke kantor, abang ke sekolah

8:00 an sampe kantor

11:30 jemput abang,pulang,makan ama adek

13:00 an balik ke kantor

19:00 - 20:00 senam

20:30an sampai rumah (adek udah bobok)

20:30 - 21:00 mandi dan bersih2

21:00 onward baca / nulis / main sama abang, terus nidurin abang - habis itu aku juga tidur


Gw debi comment…….Img_7267_1

Mmm….tanya donk dari perspektif sang anak dan sang calon istri, mungkin ada beberapa poin yang sedikit melenceng…tapi good one..mungkin refleksi yang terlupakan. Persepsi seorang anak yang ibu bapak bekerja

satu sisi aq senang ibu ku kerja,… tiap pagi kami pagi2 berangkat bersama dari aq TK, diantar sampai ke jemputan sekolah, dan didrop sudah. Aq selalu pegang adikku tuh dipinggir jalan (masih TK lho!). Kalau aq ketinggalan bis sekolah, (jaman dulu blm ada handphone), kami berdua terpaksa naik angkot dan takut sekali menyebrang jalan, tapi karena aq ndak malu2 aq selalu minta orang nyebrangin kami berdua. Aq selalu ingat kalimatnya “pak…bisa minta tolong disebrangkan?) Kata Alm papku..yang penting jangan keliatan muka takut,.

Sarapan harus bersama, terserah mo makan or ng yang penting duduk aja dimeja makan.

nanti ketemu malam, tapi kl malam aq kan mesti ngerjain pr dan nonton sinetron, jadi yang selalu aq ingat justru

ibu bapakku selalu ngecek pr ku…dan aq salut bahkan sampai aku kelas 3 smp, aq masih bisa nanya2 fisika kepada beliau. Jadi buat para ibu bapak ..dan calon ibu bapak…temanilah anak2 belajar…karena itu teringat dimemory anak yg selalu freshh……..

One thing, walaupun ada pembantu,…herannya aq tidak boleh nyuruh-nyuruh pembantu. Kalo mo nyuruh tanya dulu ama ibuku.Pembantu hanya membantu membersihkan rumah saja tugasnya (apa kontrak ama ibuku seperti nga tau ya!!!), membersihkan pekarangan dan mencuci-setrika.

Tapi bersihkan kamar, tempat tidur, rak buku dan kamar mandi harus sendiri. Dan harus membantu memasak, apakek mo ngupas bawng, mo ngupas pete, mo duduk aja..yang penting harus duduk di dapur.

Ketika aq sudah beranjak kuliah aq sudah bisa mengerjakan semuanya sendiri, dan tidak pakai pembantu lagi dengan alasan keamanan (ibuku tidak percaya ada pihak luar tinggal didalam rumah, karena kami bertiga 3 aq ibuku adeku) Dan sekarang ibuku benar2 menikmati masa2 kesibukannya berkarir, masuk dapur untuk masak ng pernah lagi, paling cuma belanja doank, aq dan adikku yang menyiapkan makan. Dan waktu aq kos, aq juga ng pusink buat hal2 seperti itu.

Jadi buat para para ibu,…jangan biasakan anak menyuruh2 pembantu, karna anak2 sebenarnya juga ingin melakukannya, tapi kadang kalo semua sudah dikerjakan pembantu atau ibu..yahh mindsetnya ngapain susah2, udah dikerjain ini..

Negatifnya tentu ada, kadang aq juga pengen punya ibu yang menyambut ku pulang, membuat kan susu coklat, menjemput dll, atau membuat camilan ketika teman2 ku belajar bersama,

Jadi buat para ibu yang bekerja,…selalu sempatkan lah membuat makanan atau camilan (jangan dibeli!) karena seorang anak selalu bangga dengan masakan ibunya walaupun tidak enak…atau seorang istri tetap menyuguhkan minuman jus /teh dimlm hari buat suaminya, walaupun cape setengah mati dan si itstri malas juga minum jus (debi banget), simple things but mean a lot….


Ngutip kalimat Rz

Nah yang benar adalah….

Bila Laki2x yang ingin calon istri stay at home, menikah dengan perempuan yang ingin membaktikan diri tinggal di rumah untuk fully dedicated urus rumah tangga.

Bila Laki2x yang ingin calon istrinya sama2x menjadi money machine, menikah dengan perempuan yang butuh aktualisasi diri di luar rumah.


Termasuk yang mana kamu,, dan carilah calon yang sama platformnya..

So bagi yang bujang.. Debi & Jaka..

Pertama, buat aq memastikan calon suami ku itu maunya seperti apa, dan tentu aq juga seperti apa, jadi tetap menjadi diri kita masing2,..Jika bentrok yaa harus dikomunikasikan sejauh mana pengen aktualisasi diri perempuan itu, semua pasti ada trade off, bagaimana dengan anak2 dll??

Menurut aq seorang wanita yang sudah menikah, harus punya financial freedom sendiri (bukan money machine!) tidak harus bekerja kantoran walaupun income suaminya sudah mencukupi,, punya usaha atau apalah..tapi intinya harus punya pendapatan sendiri. Walaupun rezeki memang dari Tuhan, kita ng pernah tau kan apa yang akan terjadi, kalau suami sakit2an dan meninggal lebih dulu sedangkan anak2 masih kecil??..Pengalamanku, aq bersyukur sekali ibuku bekerja, karena kalau dihitung uang pensiun bapakku mungkin cita2 adikku buat jadi dokter yaa buyarr…karena biaya sekolah sangat besar……Dan entahlah apa yang akan terjadi pada kami bertiga jika memang seperti itu…..

Dan tidak ada yang salah jika memang istri tidak bekerja,..yang penting dia juga hepi, ngapain punya uang kalo yang ada stress…yang penting semua hepi..suami hepi, istri hepi, anak hepi………

Db

Wah mm…ditimpali lagi oleh Rz said:

Menggelitik untuk tidak dikomentari..see comment in blue

6Sigma berkata setiap ada defect pasti ada root cause-nya. Kalau mau terhindar dari defect, eliminate root cause itu, niscaya tidak terjadi defect.


Mengutip Santi bilang,,, memang kalau sudah ‘terlanjur’ menikah, komunikasi jawabnya.

Tapi kalau belum menikah, berarti pilihan masih terbuka.

Nah yang harus dipikirkan dalam hati masing2x apakah perbedaan keinginan stay home mom or career woman itu bisa menjadi asal musabab segala permasalah di kemudian hari (alias jadi Root Cause !!??). Kalau merasa bisa di atasi dengan komunikasi yha silakan,, kalau tidak ,, yha stay away from him/her sebelum terlambat.

Kalau menurutku,, perbedaan tsb punya ranking ke 2 setelah perbedaan agama. Jadi sudah punya probability highly contribute terhadap segala permasalahn di masalah mendatang. Again, bagi yang sudah menikah,,, yha sudah bukan tawaran lagi, komunikasi, pengertian, pengorbanan dll harus menjadi konsekuensinya.

Keputusan dan perilaku seorang laki2x sudah semestinya sesuai dengan paradigma yang diambil nya. Bagi lelaki yang pingin punya stay home wife, sudah semestinya memberikan penghargaan kepada istrinya dengan memberikan seluruh penghasilan (baca 100%) kepada istrinya. Tanpa ada penipuan, semua transparan, tidak ada penghasilan yang disembunyikan. Ahli waris tentunya istri tercinta seorang (atau beberapa)

Janganlah buat istri yang sudah tinggal di rumah ‘menderita’ dengan hanya diberi 50% atau 60% gaji si suami. Disembunyikan bonusnya, disembunyikan tunjangannya.

Kalau masalah tdk cukup atau si empunya penghasilan berhalangan,, itu masalah lain… Don’t you hear word of Investment & Protection!!?? asuransi jiwa, ada dana pensiun, ada asuransi pendidikan, ada reksadana, ada saham, ada properti yang di sewakan, ada properti yang disimpan, ada wartel yang sedang berjalan, ada warnet yang tiap bulan menghasilkan,, masak gak cukup sih… Financial Planning gitu lu… tujuan elu apa !!?? he2x

Dan tidak ada yang salah jika memang istri tidak bekerja,..yang penting dia juga hepi, ngapain punya uang kalo yang ada stress…yang penting semua hepi..suami hepi, istri hepi, anak hepi………Baca email sebelumnya,, memang tidak ada yang salah,, yang salah bila ……(baca emailku sebelumnya)

udahan yha…


Mawar Kuning

tidak boleh udahan!!!! you manipulator you. you manipulated my words. aku tidak pernah bilang (menulis) seperti itu (lihat yang aku beri warna merah)!!!

Arnee :

iya jangan udahan dulu Mas Roz… aku belum kasih comment….

aku setuju dengan statement : seorang wanita yang sudah menikah, harus punya financial freedom sendiri (bukan money machine!) tapi eits jangan yg udah menikah aja dong… yg belum menikah juga harus…. (seperti debi sekarang ya kan? masak mau minta sama mama”k” di padang terus….!)

true story : (sedikit curhat bolehlah….)

sampai dengan akhir SMU mamaku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa…. penghasilan papa setelah resign dari BRI sebagai seorang bussinesman (bergerak di bidang EXIM & supplier spare parts untuk wilayah priangan timur, berkantor di gd. Sarinah Thamrin) lebih dari cukup… aku masih ngerasain tuh yg namanya pulang pergi sekolah dianter pake genio… (th.96an itu mobil keren banget…:p) tapi pas krisis moneter semua berubah….

papa bangkrut……. semua assets disita bank…. ga ada yg tersisa…. rumahpun ikut terjual… papa stress sampai sakit-2an…(jantung koroner, asam urat, tensi tinggi, batu ginjal… komplikasi sudah) mama yg tidak punya keahlian mencari uang sebelumnya sempat stress juga… anak 4….

dan satu yg disesalkan saat itu belum ngerti yg namanya Investment & Protectionjadi yg namanya Financial Planning itu belum ada…..!

nah… itulah yg aku hindari sekarang…. aku harus punya financial freedomsendiri… harus!! apapun caranya, walaupun tidak harus kerja di kantor . (nih tadi habis ngebahas usaha apa yg cocok sama mba sant & deb… untungnya punya temen yg berjiwa padang

yg jadi pelajaran juga (bener kata debi), selama aku hidup selalu ada pembantu, jadi aku ga pernah yg namanya megang kerjaan rumah tangga… nyapu, ngepel, nyuci piring, nyuci baju, beres-2 rumah… memalukan memang, apa jadinya? aku ga bisa masak, suka rumah rapih tapi ga suka beresin rumah (ini aku sesali setelah menikah) ..

tapi sekarang, bolehlah aku ngacungin jempol buat diriku sendiri… ya iyalah, apa-2 dikerjain sendiri…. ngurus rumah, ngurus anak, ngurus suami… masak juga sudah semakin terampil… (walau masih suka dikritik Jaka), pokoknya 3 th menikah membuat aku jadi banyak belajar utk hidup mandiri tidak tergantung sama orang baik itu suami ataupun pembantu….

jadi…. kalo suamiku minta aku stay at home jadi ibu rumah tangga biasa….. aku akan protes keras…! karena dengan bekerja pun urusan rumah tangga masih bisa aku urus dengan baik… suami & anak tambah gemuk…. heee……

lagipula tingkat kepuasan saat nerima uang dari suami & nerima dari hasil keringat sendiri itu beda……

Eka

menurut aku yang baru menjalani pernikahan long distance selama hampir setengah tahun…(jadi curhat)

posisi wanita bekerja itu tidak hanya untuk mempunyai finacial freedom ataupun money machine bg keluarganya… tetapi sebagai bentuk independensi (mudahn2an ejaannya benar) terhadap kehidupan, dengan bekerja secara langsung ataupun tidak langsung otak dan pikiran kita selalu berputar dan merefresh setiap kondisi dan keadaan lingkungan. Setiap istri pasti dalam pikirannya ada keinginnan mengembangkan ide2 yang ada di otaknya yang dia bawa saat dia masih single, sebagai suami janganlah mengisolasi hal tersebut. Indenpendensi pemikiran dan argumentasi adalah hak asasi manusia, klo istrinya tidak punya wawasan yang luas bagaimana dia bisa secara independent ngeaudit suami tercintanya. parahnya kondisi saat ini umunnya jarang sekali suami yang istrinya di rumah sebagai ibu rumah tangga menyediakan media informasi yang selalu membuka wawasan sang istri terhadap lingkungan sekitar, peka terhadap keadaan.

jadi bagaimana donk….?

dari sisi pribadiku… dengan bekerja, aku mengisi waktu dan kekosong yang ada atas ketidakadaan suami dirumah..

ujung2nya memang uang lagi tapi sekali lagi itu bukan yang utama

Mawar kuning mencoba membuat kesimpulan

kami para wanita bekerja not just for the money tapi for the satisfaction dan pengembangan diri

kami para wanita yang bekerja bersumpah untuk tidak pernah menelantarkan keluarga, suami dan anak2

kami para wanita tetap berpendapat bahwa our main job adalah mengurus suami, anak dan rumah tangga

kami para wanita tidak menyalahkan para lelaki yang memiliki stay-home-wives being stay-home-moms so long

as memang itu yang diinginkan oleh sang istri

kami para wanita menghormati dan menjunjung tinggi segala bentuk komunikasi antara suami dan istri

mungkin sample nya agak tidak mewakili karena para wanita yang berpendapat di sini adalah wanita yang bekerja. mungkin akan lebih baik untuk dimasukkan ke blog nya debi apabila ada pendapat dari para wanita yang tidak bekerja seperti istri mas rozy, ronny, pak agus, dll…. dan mungkin lebih baik lagi bila punya pendapat para istri yang bekerja di luar trakindo, seperti istri mas riky, mas hadirin, etc…

maka dengan ini resmi bahasan ini DITUTUP.

So guys what about you…………….agree to close this session…..never ending discussion..

No comments:

Post a Comment

feel free to comment :)